LAPORAN BESAR SOSIOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BAWIJAYA

  1. PENDAHULUAN
    • Latar Belakang

Muhammad Jauhar Firdaus (155040207111135)

Sosiologi Pertanian adalah  ilmu yang memusatkan perhatian pada petani dan permasalahan petani  termasuk di dalamnya yaitu tentang organisasi sosial pertanian (struktur pertanian), usaha pertanian, dan masalah sosial pertanian termasuk posisi sosial dalam masyarakat. Dalam keorganisasian pertanian biasanya dikenal paguyuban yang sifatnya sederhana yang dapat merekatkan hubungan antar petani. Selanjutnya dalam usaha pertanian dikenal dengan usaha tani di bidang pengolahan lahan, pembibitan, pemupukan dan produksi hasil pertanian. Sedangkan pada masalah pertanian umumnya disebabkan karena hama, minimnya pupuk, musim paceklik, dan terbatasnya lahan.

Dusun Sengon yang merupakan salah satu dari dusun yang terdapat di daerah Desa Dalisodo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Kecamatan Wagir  adalah sebuah kawasan yang terletak pada Bagian tengah utara kabupaten Malang. Berbatasan dengan empat Kecamatan, kota Malang dan kabupaten Blitar . Sebelah Utara, berbatasan dengan Kecamatan DAU. Sebelah Timur, berbatasan dengan Kota Malang. Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kecamatan Pakisaji Kecamatan Ngajum dan Kecamtan Wonosari.

Sebagai mahasiswa pertanian kita diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu sosiologi pertanian dengan membantu dalam memanfaatkan teknologi petanian serta mengembangkan hubungan sosial dan keorganisasian yang terjalin antar petani di Desa Dalisodo. Sehingga antar petani dapat menciptakan inovasi baru mengenai metode-metode cara pengolahan pertanian yang lebih efisien.

Praktikum lapang sosiologi pertanian ini mengajarkan kita untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat petani Desa Dalisodo, serta kita bisa mengetahui bangaimana kehidupan petani  yang termasuk dalam kondisi ekonomi, sosial, serta kehidupan sosial masyarakat  desa tersebut.

 

 

 

  • Tujuan Praktikum

Tujuan Praktikum lapang Sosiologi Pertanian pada Desa Dalisodo adalah untuk mengetahui:

1.      Bagaimana profil dari petani yang ada di Desa Dalisodo.

  1. Bagaimana kegiatan usaha tani yang dilakukan oleh petani di Desa Dalisodo.
  2. Bagaimana keadaan geografis pada Desa Dalisodo
  3. Bagaimana kehidupan dan kebudayaa petani Desa Dalisodo
    • Manfaat Praktikum

Manfaat praktikum lapang Sosiologi Pertanian adalah agar mahasiswa dapat mengetahui:

  1. Bagi mahasiswa, dapat menganalisis kondisi pertanian dan kehidupan yang ada di desa Dalisodo.
  2. Bagi pemerintah, dapat mengetahui bagaimana sistem pertanian yang diterapkan pada desa Dalisodo,sehingga dapat manjadi kajian ke depan agar dapat mengembangkan sektor pertanian jauh lebih baik lagi.
  3. Bagi pembaca,dapat mengetahui bagaimana sistem pertanian yang diterapkan di desa Dalisodo.


 

  1. TINJAUAN PUSTAKA
    • Geografis Dusun Sengon Desa Dalisodo

Achmad Praditya Yoga Bagasta (155040201111303)

Dusun Sengon yang merupakan salah satu dari dusun yang terdapat di daerah Desa Dalisodo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Kecamatan Wagir  adalah sebuah kawasan yang terletak pada Bagian tengah utara kabupaten Malang. Berbatasan dengan empat Kecamatan, kota Malang dan kabupaten Blitar . Sebelah Utara, berbatasan dengan Kecamatan DAU. Sebelah Timur, berbatasan dengan Kota Malang. Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kecamatan Pakisaji Kecamatan Ngajum dan Kecamtan Wonosari. geografis sedemikian itu menyebabkan Kecamatan Wagir memiliki posisi yang cukup  strategis. Hal ini ditandai semakin ramainya jalur transportasi utara maupaun selatan yang melalui Kecamatan Wagir. Posisi koordinat Kecamatan Wagir terletak antara 112,5406 Bujur Timur dan 112,6112 Bujur Timur dan antara 8,0301 Lintang selatan dan 1,9702 Lintang selatan.

Luas Kawasan Kecamatan Wagir secara keseluruhan adalah sekitar 75,43 km2 atau sekitar 2,53 persen dari total luas Kabupaten Malang, dan berada pada urutan luas terbesar ke tujuh belas dari 33  Kecamatan di wilayah Kabupaten Malang. kondisi topografi Kecamatan wagir merupakan daerah datar dan perbukitan pada ketinggian 474 meter diatas permukaan laut (dpl).

  • Aset dan Modal Pertanian

Muhammad Jauhar Firdaus (155040207111135)

Menurut Sherraden (2006) asset didefinisikan sebagai saham kekayaan dalam rumah tangga atau unit lainnya. Definisi lain dari aset adalah sesuatu yang berguna, berharga, dan berkualitas. Ellis (2005) menjelaskan bahwa aset sebagai bentuk modal yang dimiliki dan digunakan untuk kehidupan individu atau rumah tangga untuk mempertahankan kesejahteraan materi pdada tingkat kelangsungan hidup. Aset dibagi menjadi beberapa bagian, menurut Green & Haines (2002) aset dibagi menjadi tujuh yaitu modal fisik, modal finansial, modal lingkungan, modal teknologi, modal manusia, modal sosial dan modal sepiritual.

Modal fisik dibedakan menjadi dua kelompok utama yaitu bangunan dan infrastruktur. Modal fisik yang berupa bangunan terdiri dari pasar, sekolah, gedung, rumah, perkantoran, pertokoan, dan hal lain yang berkaitan dengan bangunan. Modal fisik yang berupa infrastruktur terdiri atas jalan, jembatan, sarana pembuangan limbah,jalan kereta api, dan hal lain yang berkaitan dengan infrastruktur. Modal fisik ini merupakan sarana pembantu masyarakat untuk meningkatkan hidupnya.

Modal finansial merupakan dukungan keuangan yang dimiliki suatu komunitas yang dapat digunakan sebagai biaya proses pembangunan komunitas tersebut. Modal ini mewakili sumber-sumber keuangan yang ada dalam komunitas itu sendiri, seperti penghasilan, pinjaman, iuran dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan dan membangun komunitas itu sendiri.

Modal lingkungan atau modal alam meliputi sumber daya alam dan sumber daya hayati yang terdapat dalam suatu ruanglingkup tertentu. Modal lingkungan ini terdiri dari bumi, udara, laut, tumbuhan binatang dan sebagainya.

Modal teknologi adalah modal yang meliputi perangkat lunak (software) yang digunakan untuk melengkapi modal fisik lainnya seperti teknologi pengairan pada sawah, teknologi penanaman, teknologi pemanenan dan sebagainya yang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan kemudahan yang diberikan.

Modal manusia merupakan modal yang mewakili unsur pengetahuan, perspektif, mentalitas, keahlian, pendidikan, kemampuan kerja, dan kesehatan masyarakat yang berguna untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Modal manusia dapat dikatakan pula sebagai sumber data manusia yang memiliki kualitas sehingga dapat menguasai teknologi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Unsur dari modal manusia adalah intelektual, emosional, ketabahan, moral dan kesehatan. Intelektual merupakan perangkat yang diperlukan untuk menemukan peluang dan mengelola ancaman dari kehidupan, menurut Goleman (1997) menyatakan bahwa kemampuan manusia untuk mengenal dan mengelola emosi sendiri, serta dapat memahami emosi orang lain agar dia dapat mengambil tindakan sesuai dalam berinteraksi dengan orang lain, ketabahan adalah kemampuan untuk memahami emosi diri sendiri secara tepat dan akurat dalam berbagai situasi secara konsisten, moral antara lain tentang integritas, tanggung jawab, penyayang, pemaaf, dll, dan kesehatan adalah bagian dari modal manusia agar dapat bekerja dan berfikir secara produktif. Dalam modal manusia dengan segala kemampuannya bila dikerahkan keseluruhannya akan menghasilkan kerja yang sangat luar biasa. Komponen modal manusia menurut Ancok (2002) dibagi menjadi enam kelompok,yaitu modal intelektual, modal emosional, modal sosial, modal ketabahan, modal moral dan modal kesehatan.

Modal intelektual menurut Ross. dkk (1997) merupakan perangkat yang diperlukan untuk menemukan peluang dan mengelola ancaman. Modal ini sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan diperoleh dan akan mempengaruhi sikap yang akan diambil dalam menghadapi sesuatu seperti inofasi dan solusi.modal intelektual berkaitan dengan kecerdasan dan pola pikir dari seseorang itu sendiri.

Modal emosional menurut Bradberry & Greaves (2005) adalah gambaran kemampuan manusia untuk mengelola emosi sendiri serta memahami emosi orang lain agar dapat menganbil tindakan sesuai dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Orang yang memiliki modal emosional yang tinggi akan selalu optimis dan bersikap positif terhadap apa yang dialaminya. Orang yang memiliki modal emosional yang tinggi sudah pasti memiliki modal intelektual yang tinggi. Modal intelektual akan berkembang atau terhambat perkembangannya sangat ditentukan oleh modal emosional. Selain modal emosional dan modal intelektual terdapat modal sosial yang berkaitan dengan hubungan diantara masyarakat. Modal sosial juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menghargai orang lain dan melakukan kerjasama satu sama lain. Selanjutnya adalah modal ketabahan yang menjadi modal sukses dalam kegidupan karena dengan adanya ketabahan hasil yang akan diperoleh lama atau pun cepat akan diperoleh atas usaha yang telah dilakukan.

Modal selanjutnya adalah modal moral yang mengatur etika berkelakuan, apanila modal ini diabaikan akan menimbulkan masalah karena seseorang akan melakukan sesuai dengan apa yang diingikan tanpa melihan apa resiko yang akan dihadapinya. Terakhir dari pembagian modal manusia adalah modal kesehatan, modal ini sangat penting karena kecerdasan, kekuatan dan perasaan manusia akan terganggu dan kacau apabila manusia tersebut tidak sehat, pada dasarnya badan atau raga manusia merupakan wadah untuk mendukung semua modal di atas. Jadi kesehatan harus dijaga agar tidak mengganggu tingkat kinerja dan prosuktivitas seseorang.

Modal sosial adalah norma dan aturan yg mengikat warga masyarakat yg ada didalamnya dan mengatur pola perilaku warga, juga unsur kepercayaan (trust) dan jaringan (networking) antara warga masyarakat ataupun kelompok masyarakat. Kepercayaan merupakan tumbuhnya sikap saling percaya antar individu dan antar institusi dalam masyarakat. Kohesivitas yaitu adanya hubungan yang erat dan padu dalam membangun solidaritas masyarakat. Altruisme merupakan paham yang mendahulukan kepentingan orang lain. Modal ini mewakili sumber daya sosial yang bermanfaat untuk membantu masyarakat memunuhi kebutuhan hidupnya.

Modal spiritual adalah sumber kekayaan yang membuat kita bisa bertahan hidup yang menyentuh aspek paling mendasar dalam hidup kita. Pemahaman, nilai dan motivasi tertinggi dalam manusia terakumulasi dalam modal spiritual. Bagi sebuah organisasi, modal spiritual adalah sebuah visi dan model berkelanjutan dalam kerangka kepedulian terhadap komunitas dan dunia sekitar. Praktek bisnis memiliki nilai filosofi tersendiri yang bersentuhan dengan nasib kemanusiaan dan masa depan dunia secara keseluruhan. Jika kita hanya mengeksploitasi sumbner daya alam tanpa kendali, maka kita seperti membunuh diri sendiri dan menghancurkan alam. Itulah alasan yang melatar belakangi kecemasan manusia terhadap fenomena global warming dan climate change. Dunia terancam binasa karena ulah manusia.

  • Kebudayaan

Indi Ilmiah Safitri  (155040200111071)

Menurut Suparlan (1985), kebudayaan merupakan sistem pengetahuan manusia yang diyakini akan kebenarannya oleh yang bersangkutan dan diselimuti serta menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia serta menjadi sumber bagi sistem penilaian sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu yang berharga atau tidak, sesuatu yang  bersih atau kotor dan lain sebagainya. Kebudayaan memiliki beberapa fungsi, antara lain: melindungi diri terhadap alam, sebagai alat menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap lingkungan, sebagai pedoman yang mengatur hubungan antar manusia sehingga terjadi tertib sosial, dan juga sebagai wadah dari pada segenap perasaan manusia.

  • Kelembagaan Pertanian

Wulan Septia (155040201111111)

Kelembagaan menurut Wahyuni (2003) dikelompokkan ke dalam dua pengertian, yaitu institut dan institusi. Institut menunjuk pada kelembagaan formal, misalnya organisasi, badan, dan yayasan mulai dari tingkat keluarga, rukun keluarga, desa sampai pusat, sedangkan institusi merupakan suatu kumpulan norma-norma atau nilai-nilai yang mengatur perilaku manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga pengertian kelembagaan pertanian yang dimaksud adalah kelembagaan formal, seperti sebuah organisasi ataupun institusi norma-norma yang berkaitan dengan petani. Kelembagaan pertanian tumbuh dan dikembangkan dari, oleh, dan untuk pelaku utama. Pelaku utama yang dimaksud adalah masyarakat di dalam ataupun di sekitar kawasan pertanian.

Kelembagaan usahatani memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pelaku usahatani (Aruchelvan dan Viswanathan, 2006). Selama ini pendekatan kelembagaan juga telah menjadi komponen pokok dalam pembangunan pertanian dan pedesaan. Namun, kelembagaan usahatani, terutama kelompok petani cenderung hanya diposisikan sebagai alat untuk mengimplementasikan proyek belaka, belum sebagai upaya untuk pemberdayaan yang lebih mendasar (Wahyuni, 2003).

Dalam hal ini lembaga dapat memiliki struktur yang tegas dan formal, dan lembaga dapat menjalankan satu fungsi kelembagaan atau lebih. Kelembagaan pertanian memiliki delapan jenis kelembagaan, yaitu 1) kelembagaan penyedia input, 2) kelembagaan penyedia modal, 3) kelembagaan penyedia tenaga kerja, 4) kelembagaan penyedia lahan dan air, 5) kelembagaan usaha tani, 6) kelembagaan pengolah hasil usaha tani, 7) kelembagaan pemasaran, 8) kelembagaan penyedia informasi.

Dalam sistem pertanian dikenal juga istilah kelembagaan rantai pasok yakni hubungan manajemen atau sistem kerja yang sistematis dan saling mendukung di antara beberapa lembaga kemitraan rantai pasok suatu komoditas. Komponen kelembagaan kemitraan rantai pasok mencakup pelaku dari seluruh rantai pasok, mekanisme yang berlaku, pola interaksi antarpelaku, serta dampaknya bagi pengembangan usaha suatu komoditas maupun bagi peningkatan kesejahteraan pelaku pada rantai pasok tersebut. Bentuk kelembagaan rantai pasok pertanian terdiri dari dua pola, yaitu pola perdagangan umum dan pola kemitraan. Ikatan antara petani dan pedagang umumnya ikatan langganan, tanpa adanya kontrak perjanjian yang mengikat antarkeduanya dan hanya mengandalkan kepercayaan. petani dan pedagang pada pola ini juga sering melakukan ikatan pinjaman modal. Sedangkan pola kemitraan rantai pasok pertanian adalah hubungan kerja di antara beberapa pelaku rantai pasok yang menggunakan mekanisme perjanjian atau kontrak tertulis dalam jangka waktu tertentu. Dalam kontrak tersebut dibuat kesepakatan-kesepakatan yang akan menjadi hak dan kewajiban pihak-pihak yang terlibat (Marimin dan Maghfiroh, 2010).

  • Perubahan Sosial

Joshua Bimayou Sitepu (155040200111240)

Perubahan sosial terjadi karena adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur sosial yang berbeda di dalam kehidupan masyarakat, sehingga menghasilkan pola kehidupan yang baru atau berbeda dengan pola kehidupan sebelumnya. Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat tersebut (Soemardjan, 1981). Perubahan sosial mencakup perubahan dalam nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, susunan lembaga kemasyarakatan, pelapisan sosial, kelompok sosial, interaksi sosial, pola-pola perilaku, kekuasaan dan wewenang, serta berbagai segi kehidupan masyarakat lainnya.

Menurut Soerjono Soekanto (2000) terdapat 4 faktor penyebab terjadinya sebuah perubahan sosial, antara lain: 1) bertambah atau berkurangnya penduduk, 2) penemuan-penemuan baru atau inovasi, 3) konflik dalam masyarakat, 4) terjadinya pemberontakan atau revolusi dalam tubuh masyarakat sendiri. Perubahan sosial dapat diketahui bahwa telah terjadi dalam masyarakat dengan membandingkan keadaan pada dua atau lebih rentang waktu yang berbeda. Misalnya struktur masyarakat Indonesia pada masa pra kemerdekaan, setelah merdeka, orde lama, orde baru, reformasi dan seterusnya.


 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
    • Identifikasi Petani Bapak Ladi

Achmad Praditya Yoga Bagasta (155040201111303)

Bapak Ladi merupakan salah satu petani yang ada di RT 10, RW 04, Dusun Sengon, Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Beliau berusia 65 tahun  dengan pendidikan terakhirnya  Sekolah Dasar dan kepercayaan yang dianut adalah islam. Pekerjaan utama adalah sebagai petani semenjak lulus dari pendidikan Sekolah Dasar, dan beliau tidak mempunyai pekerjaan sampingan. Selain itu beliau memiliki 1 orang istri dan 2 orang anak, untuk susunan anggota keluarga Bapak Ladi disajikan pada Tabel 1

Tabel 1. Sususan Anggota Keluarga Bapak Ladi

Nama Hub. dg KK Umur (thn) Pendidikan Terakhir Pekerjaan
Utama Sampingan
Ladi Kepala Keluarga 65 SD Petani Pencari Ikan
Piayah Istri 60 SD Ibu Rumah Tangga
Sutaji Anak 41 SD Buruh Bangunan
Wirana Anak 38 SD Penjual Makanan di Warung

 

Foto ibu Piayah (istri pak Ladi) disajikan pada Gambar 1. Sedangkan untuk foto-foto kegiatan praktikum disajikan pada Lampiran 1.

 

Gambar 1. Foto ibu Piayah bersama kelompok 6

Bapak Ladi memiliki lahan tegalan seluas 0,82 ha yang berada pada satu petak lahan yang sama. Berikut ini merupakan rincian lahan yang dimiliki dan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Luas Lahan Milik Bapak Ladi

No Luas lahan (m2) Jenis Tanaman Budidaya
1 8200 Cabai Merah

Menurut Rahardjo (1984), berdasarkan luas tanah yang dimiliki petani dapat digolongkan menjadi enam, yaitu:

  1. Golongan buruh tani (< 0,01 ha)
  2. Golongan petani gurem (0,10 –0,25 ha)
  3. Golongan petani kecil (0,25 –0,5 ha)
  4. Golongan petani sedang (0,5 –2,0 ha)
  5. Golongan petani kaya (2,0 –5,0 ha)
  6. Golongan tuan tanah (> 5 ha)

Berdasarkan dari penggolongan diatas, bapak Ladi termasuk kedalam golongan petani sedang yaitu dengan lahan yang dimilikinya seluas 0,82 ha. Adanya perbedaan golongan petani berdasarkan luas tanah tersebut akan berpengaruh terhadap sumber dan distribusi pendapatannya.Selain itu pendapatan petani juga dipengaruhi oleh status kepemilikan lahan yang digunakan untuk kegiatan pertanian.

Menurut Scott(1993), sedikitnya empat ciri utama dalam masyarakat petani, yaitu: (1) satuan rumahtangga (keluarga) petani adalah satuan dasar dalam masyarakat yang berdimensi ganda, (2) petani hidup dari usahatani dengan mengolah tanah, (3) pola kebudayaan petani berciri tradisional dan khas dan (4) petani menduduki posisi rendah dalam masyarakat sebagai “wong cilik” (orang kecil) terhadap level masyarakat di atas desa.

  • Aset dan Modal Pertanian

Muhammad Jauhar Firdaus (155040207111135)

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap Pak Ladi yang bekerja sebagai petani di Dusun Sengon RT 10 RW 04, Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang dapat dilakukan pembahasan bahwa aset dan modal pertanian yang dimiliki Pak Ladi ada berbagai macam. Modal fisik yang dimiliki yaitu rumah dan lahan dengan luas 8200 m2 yang dimiliki secara pribadi.berdsarkan kepemilikan lahan nya Pak Ladi tergolong kedalam petani kecil karena memiliki luas lahan sebesar 8200 m2 atau 0.82 ha, hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Sastraatmadja (2010), ia membagi petani berdasarkan kepemilikan lahan menjadi empat bagian yaitu petani buruh / buruh tani, petani gurem, petani kecil dan petani besar. Petani buruh atau buruh tani merupakan petani yang tidak mempunyai lahan sendiri biasanya petani buruh atau buruh tani ini melakukan kegiatan pertanian pada lahan orang lain atau dapat pula menyewa lahan dari orang lain. Petani gurem adalah petani yang memiliki lahan seluas 0,1 ha sampai dengan 0,5 ha. Selanjutnya adalah petani kecil yang memiliki lahan dengan luas antara 0,5 ha sampai dengan 1 ha. Sedangkan petani besar memiliki lahan dengan luasan lebih dari 1 ha. Berdasarkan luasan lahan yang dimiliki oleh Pak Ladi, beliau merupakan petani kecil karena memiliki lahan dengaan luasan 0,82 ha karena yang tergolong didalam petani kecil memiliki lahan seluan 0,5 ha sampai dengan 1 ha.

Modal finansial merupakan dukungan keuangan yang dimiliki suatu komunitas yang dapat digunakan sebagai biaya proses pembangunan komunitas tersebut. Modal ini mewakili sumber-sumber keuangan yang ada dalam komunitas itu sendiri, seperti penghasilan, pinjaman, iuran dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan dan membangun komunitas itu sendiri. Dalam kegiatan pertanian yang dilakukan oleh Pak Ladi, beliau mendapatkan modal finansial dari penghasilan beliau sendiri. Beliau mendapatkan penghasilan dari menyisakan keuntungan hasil panen untuk disimpan agar dapat digunakan sebagai modal kembali oleh beliau pada saat musim tanam selanjutnya. Modal yang didapatkan dari hasil panen musim sebelumnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk musim tanam selanjutnya, sehingga beliau tidak perlu lagi meminjam modal finansial dari orang lain.

Modal ligkungan atau modal alam meliputi dari sumber daya hayati yang terdapat dalam ruanglingkup tertentu dan modal ini terdiri dari bumi, udara, laut, tumbuhan, binatang dan lain sebagainya. Menurut letak geografisnya dusun sengon yang ditempati oleh Pak Ladi merupakan salah satu dusun dari daerah Desa Dalisodo Kecaamatan Wagir Kabupaten malang. Kecamatarn Wagir ini terletak di bagian tengah utara dari Kabupaten Malang yang berbatasan dengan empat kecamatan dari kota Malang dan Kabupaten Blitar. Sebelah Utara, berbatasan dengan Kecamatan DAU. Sebelah Timur, berbatasan dengan Kota Malang. Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kecamatan Pakisaji Kecamatan Ngajum dan Kecamtan Wonosari. geografis sedemikian itu menyebabkan Kecamatan Wagir memiliki posisi yang cukup  strategis. Hal ini ditandai semakin ramainya jalur transportasi utara maupaun selatan yang melalui Kecamatan Wagir. Posisi koordinat Kecamatan Wagir terletak antara 112,5406 Bujur Timur dan 112,6112 Bujur Timur dan antara 8,0301 Lintang selatan dan 1,9702 Lintang selatan. Pada Dusun Sengon yang ditempat oleh Pak Ladi hanya memanfaatkan hujan sebagai sumber air utama untuk bidang pertanian, sehingga petani harus menanam sesuai dengan musim yang sedang terjadi. Pertanian dengan hanya mengandalkan air hujan membuat pada saat musim panas lahan pertanian sering dibiarkan begitu saja atau dapat dikatakan sebagai bero.

Modal manusia menurut Stockley (2003) menyatakan bahwa modal sosial merupakan konsep yang menjelaskan bahwa manusia merupakan asset yang penting dan beresensi dalam organisasi. Modal manusia merupakan asset penting karena memiliki sumbangan terhadap perkembangan dan pertumbuhan. Berdasarkan jenis kedudukan dan peranan pertanian menurut Mosher (1996) dibagi menjadi sua yaitu petani sebagai penyedia tenaga kerja / labor dan petani sebagai pengelola / manager. Petani sebagai labor maksudnya adalah petani itu sendiri yang mengelola usaha pertaniannya dan biasanya hanya dibantu oleh keluarganya, sedangkan petani manager adalah petani yang memiliki kemampuan untuk mengelola, mengorganisasi, mengatur, mengkoordinasi dan mengambil keputusan sesuai dengan yang diharapkan. Petani manager bekerja dengan menggunakan otak dengan lebih banya sedangkan petani labor bekerja lebih memaksimalkan kerja fisiknya. Berdasarkan jenis kedudukan dan peranan pertanian tersebut, Pak Ladi merupakan petani sebagai labor atau petani penyedia tenaga kerja, karena beliau sendirilah dan keluarganya yang mengelola pertanian yang dimilikinya. Bahkan beliau sudah memulai kegiatan pertanian sejak kecil yaitu tepatnya setelah menyelesaikan pendidikan dasar beliau. Keterampilan dan pengetahuan tentang pertanian didapat beliau secara turun remurun dari orang tua beliau, karana beliau telah melakukan kegiatan pertanian sejak kecil.

Modal teknologi atau modal peralatan yang dimiliki oleh Pak Ladi hanya sebatas alat yang sederhana seperti alat bantu semprot, cangkul, dan sabit, sedangkan alat transportasi yang digunakan untuk pergi menuju lahan dan menjual hasil panen adalah sepeda motor yang dimiliki. Peralatan atau bahan lain yang tidak dimiliki oleh Pak Ladi biasanya akan dibeli pada saat akan melakukan budidaya tanaman, seperti benih, pupuk, pestisida dan alat atau bahan lain yang dirasa dibutuhkan, akan tetapi apabila bahan atau alat tersebut dapat di penuhi sendiri seperti benih yang didapat dari hasil penen musim sebelumnya maka beliau tidak perlu membelinya.

Modal sosial adalah suatu norma dan aturan yang mengikat warga, modal sosial ini juga mengikat warga yang ada didalam nya dan mengatur pola perilakunya. Didalam modal sosial terdapat dua unsur yaitu kepercayaan dan juga jaringan. Modal sosial yang dimiliki oleh Pak Ladi yang bekerja sebagai petani adalah hubungan beliau dengan tetangga dan Koprasi Unit Desa yang ada didesa tersebut. Pak Ladi menjalin hubungan dan kepercayaan dengan tetangga sekitar, karena beliau tinggal dipedesaan dan hubungan yang terjalin dalam masyarakat pedesaan masih sangat dekat. Hubungan yang dijalan beliau dengan Koprasi Unit Desa adalah sebagai hubungan jual beli. Beliau biasanya membeli kebutuhan pertanian seperti pupuk dan pestisida di Koprasi Unit Desa tersebut. Selain hubungan yang dijalin dengan warga sekitar rumah beliau dan Koprasi Unit Desa, beliau juga menjalin hubungan dengan pedagang yang ada di pasar Gadang. Hasil dari panen yang dilakukan dijual oleh Pak Ladi ke pasar Gadang dengan cara mengantarnya langsung menggunakan kendaraan sepeda motor menuju pasar tersebut.

  • Pola Tanam Pertanian Petani

Achmad Praditya Yoga Bagasta (155040201111303)

Hasil pengamatan dan hasil wawancara,  pola tanaman yang dilakukan ada 1 macam yaitu monokultur. Pada pola tanaman monokultur dilakukan pada lahan dengan luas 8200 mdengan tanaman budidaya berupa tanaman cabai atau tanaman jagung. Tetapi pada kondisi saat ini tanaman cabai yang menjadi komoditas utama. Pemilihan komoditas cabai dikarenakan petani menyesuaikan pada kondisi musim penghujan saait ini yang dirasa cukup menguntungkan untuk budidaya tanaman cabai,karena kondisi lahan pada daerah ini yang kering dengan keterbatasan air yang ada di desa tersebut, sehingga petani dapat terbantu dengan adanya air hujan pada musim musim seperti ini untuk pengairan lahan mereka.

Menurut (Djarwaningsih, T. 1984), salah satu sifat tanaman cabai yang disukai oleh petani adalah tidak mengenal musim. Artinya, tanaman cabai dapat ditanam kapan pun tanpa tergantung musim. Cabai juga mampu tumbuh di rendengan maupun labuhan, itulah sebabnya cabai dapat ditemukan kapan pun di pasar atau di swalayan.

Dari pola tanam yang dilakukan oleh Pak Ladi dapat di lihat dalam tabel berikut

Tabel 3. Pola tanam petani Bapak Ladi

Lokasi Bulan 2015 Bulan 2016
5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4
Tegal Jagung Cabai

 

Pada lahan tegal milik bapak Ladi terdapat 2 pilihan tanaman budidaya pada setiap awal tanam, yaitu tanaman cabai dan jagung. Seperti contoh tanaman cabai yang mulai ditanam bapak Ladi dari awal bulan Januari hingga bulan April. Setelah bulan April dan tanaman cabai telah selesai dipanen,lahan tegal tidak langsung digunakan untuk media tanam,tetapi lahan tersebut akan mengalami masa bera yaitu suatu masa dimana lahan diistirahatkan sebagai bagian dari proses rotasi tanam. Rotasi tanam cukup penting dalam proses budidaya tanaman,karena mempunyai bebrapa manfaat diantaranya memutus siklus hama atau penyakit. Seperti yang dijelaskan Wiranata Abdi Sukmana (2012) bahwa pergiliran atau rotasi tanaman yaitu merupakan salah satu pola tanam yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman yang yidak sefamili secara bergilir pada satu lahan pada satu periode penanaman dalam urutan waktu tertentu yang bertujuan untuk memutuskan siklus hidup hamadan penyakit tanaman. Setelah melewati masa bera pada lahan bapak Ladi akan ditanaman tanaman jagung pada bulan Agustus sampai dengan Oktober.

 

  • Kebudayaan Petani

Indi Ilmiah Safitri  (155040200111071)

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara terhadap Bapak Ladi, beliau menjelaskan cara bercocok tanam untuk lahan tegalan yang ditanami jagung dan cabai secara monokultur dengan cara bergilir antara lain :

  1. Sebelum dilakukan budidaya lahan digenangi dengan air, agar nantinya mudah dilakukan pengolahan lahan.
  2. Pengolahan tanah, pengolahan tanah yang dilakukan secara manual dengan menggunkan cangkul.
  3. Dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik.
  4. Benih jagung dan cabai disiapkan yang dibuat sendiri dengan cara memilih jagung yang baik untuk benih dan mengambil bagian tengah jagung untuk dijadikan sebagai benih.
  5. Dibuat lubang tanam dengan menggunakan sistem tugalan dengan jarak tanam 30 cm x 30 cm. Kemudian dimasukan benih jagung kedalam lubang, setelah itu ditutup tanah.
  6. Dilakukan sanitasi (pengendalian gulma) dan pengendalian hama penyakit dengan menggunkan pestisida.
  7. Panen.
  8. Penanaman jagung dan cabai dilakukan secara bergantian, setelah panen jagung, petani baru menanam cabai.

Pola budidaya yang didapatkan oleh Bapak Ladi adalah dari orang tua. Pengetahuan yang diperoleh dari orang tua secara turun-temurun lebih kepada teknik pengolahan lahan, penggunaan benih yang disiapkan sendiri dari hasil pemanenan, penggunaan pupuk organik dan pengendalian opt serta pemanenan.

Jenis sarana produksi yang dimiliki Bapak Ladi sendiri seperti cangkul, sabit, dan tugal, sementara pupuk organik beliau memanfaatkannya dari hasil kotoran ternak yang dimiliki dan membelinya dari peternak ayam. Sedangkan untuk pupuk anorganik (urea, ZA), pestisida, Bapak Ladi membelinya di KUD.

Menurut Eric R. Wolf (1986), mengemukakan bahwa petani sebagai orang desa yang bercocok tanam, artinya mereka bercocok tanam di daerah pedesaan, tidak dalam ruangan tertutup di tengah kota. Artinya penghasil-penghasil pertanian yang mengerjakan tanah secara efektif, yang melakukan pekerjaan itu sebagai sumber nafkah hidupnya, bukan sebagai bisnis yang bersifat mencari keuntungan.

  • Kelembagaan atau Pranata Sosial Di Dusun Sengon Desa Dalisoso

Wulan Septia (155040201111111)

3.5.1 Lembaga penguasaan Lahan Pertanian

Penguasaan lahan menurut Dirman (1958) adalah kepunyaan yang bersifat perdata, dalam hal ini kepemilikan tanah adalah hubungan hukum antara orang per-orangan, kelompok orang atau badan hukum tertentu dengan tanah tertentu sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok Agraria.

Lembaga penguasaan lahan pertanian yang tejadi di Desa Dalisodo Kecamatan wagir Kabupaten Malang berdasarkan hasil wawancara kepada Bapak Ladi Status lahan tegalan yang dimiliki oleh beliau adalah lahan milik sendiri dan lahan yang dimiliki seluas 8200 m².Lahan yang dimiliki Bapak Ladi tidak disewakan atau bagi hasil, karena sejak dahulu dari orang tua beliau lahan diolah sendiri dan hasilnya untuk  dinikmati sendri, akan tapi jika ada sisa dari hasil panen tersebut, maka barudijual.

MenurutSuwarto, dkk (2010) yaitu pilihan petani terhadap bentuk kelembagaan lahan sewa dapat dipengaruhi oleh penawaran tenaga kerja untuk usahatani, produktivitas input, kemudahan pengawasan pelaksanaan usahatani. Dalam hal ini Hannig menjelaskan bahwa jika penawaran tenaga kerja tinggi pada sektor pertanian maka penyakapan yang banyak dilaksanakan. Sebaliknya jika banyak terbuka kesempatan kerja di luar pertanian, penawaran tenaga kerja di sektor pertanian terbatas, maka sewa menjadi pilihan bagi pemilik lahan.

3.5.2 Lembaga yang Melakukan Fungsi Penyediaan Sarana Produksi Pertanian (benih/bibit, pupuk, obat-obatan)

MenurutDariah (2004) lembaga penyedia sarana produksi pertanian merupakansuatu lembaga yang menyediakan segala kebutuhan sarana produksi pertanian mulaidari penyediaan benih atau bibit, pupuk, obat-obat tanaman(pestisida) sertaalat-alat pertanian yang membantu dalam pengelolaan lahan.

Benih yang yang digunakan untuk kegiatan budidaya Bapak Ladi diperoleh dengan cara memanen dari benih cabai itu sendiri, jenis benih yang digunakan adalah curah dan yang digunakan untuk usaha taninya sebanyak 5kg. Untuk jenis pupukorganik beliau menggunakannya dengan memanfaatkan dari hasil kotoran ternak yang dimiliki. Sarana produksi lainnya seperti pupuk anorganik dan pestisida, beliau menggunakan urea dan ZA dan jumlah yang dibutuhkan untuk usaha taninya sebanyak 4 kwintal dan beliau memperoleh pupuk anorganik tersebut dengan cara membeli dengan pembayaran cash sedangkan untuk pestisida beliau menggunakan pestisida kimia untuk membasmi hama ular putih.

3.5.3 Lembaga yang Melakukan Fungsi Penyediaan Tenaga Kerja

Pengadaan tenaga kerja merupakan langkah pertama dan yang mencerminkan berhasil tidaknya suatu perusahaan mencapai tujuannya. Hasibuan (2007) mengatakan bahwa “Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang efektif dan efisien membantu tercapainya tujuan perusahaan”. Hal tersebut juga sejalan dengan pendapat Sedarmayanti (2009) yang menyatakan bahwa “Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan pegawai yang sesuai dengan kebutuhan organisasi”.Berdasarkan kedua pendapat tersebut pengadaan tenaga kerja merupakan proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi dan induksi untuk mendapatkan pegawai yang sesuai dengan kebutuhan agar dapat membantu tercapainya tujuan organisasi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ladi beliau menggunakan tenaga kerja dari keluarganya sendiri. Beliau beserta istrinya selalu melakukan kegiatan seperti penanaman, perawatan hingga pemanenan dengantidak dibantu oleh tenaga kerja dari luar keluarganya.

3.5.4 Lembaga yang Dapat Melakukan Fungsi Pengolahan Hasil Pertanian

Fungsi pengolahan harus pula dipahami sebagai kegiatan strategis yang menambah nilai dalam mata rantai produksi dan menciptakan keunggulan kompetitif. Fungsi teknis pengolahan seharusnya  dipandang dari perspektif strategisnya. Dengan demikian manfaat agroindustri adalah merubah bentuk dari satu jenis produk menjadi bentuk yang lain sesuai dengan keinginan konsumen, terjadinya perubahan fungsi waktu, yang tadinya komoditas pertanian yang perishable menjadi tahan  disimpan lebih lama, dan meningkatkan kualitas dari produk itu sendiri, sehingga meningkatkan harga dan nilai tambah.

Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Soekartawi (1991), bahwa agroindustri dapat meningkatkan nilai tambah, meningkatkan kualitas hasil, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, meningkatkan ketrampilan  produsen, dan meningkatkan pendapatan.

Akan tetapi berdasarakan hasil wawancara, hasil panen dari lahan yang dibudidayakan oleh Bapak Ladi hasilnya dijual dan sisanya dijadikan sebagai benih untuk penanaman kembali, sistem penjualannya adalah dengan menjual cabai per kg dengan keadaan yang masih segar dengan alasan untuk menjamin kualitas cabai itu masih bagus dengan menerapkan sistem sortasi dengan membagi dua kualitas (kualitas bagus dan kualitas jelek).3.5.5 Lembaga Pemasaran Hasil Pertanian

Menurut Kotler (1980) Pemasaran adalah Proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan bertukar produk yang bernilai satu sama lain.Menurut Kotler (1980) ada empat faktor yang menyebabkan mengapa pemasaran itu penting : 1. Jumlah produk yang di jual menurun, 2. Pertumbuhan penampilan perusahaan juga menurun, 3. Terjadi perubahan yang diinginkan konsumen, 4. Terlalu besar pengeluaran untuk penjualan.

Berdasarakn hasil wawancara dengan Bapak Ladi banyak sedikitnya sisa hasil panen yang dijual tergantung hasil produksi yang didapatkan dari tanaman budidaya, jika hasil panen sudah dapat mencukupi kebutuhan maka banyak atau sedikit jumlahnya akan dijual. Hasil panen dijual ke pasar Gadang dalam bentuk yang masih segar kepada pengepul yang memborong dan sudah menjadi langganan Bapak Ladi. Untuk harga yang diberikan tergantung permintaan pasar itu sendiri.

  • Perubahan Sosial Petani

Joshua Bimayou Sitepu (155040200111240)

Perbuahan sosial yang tejadi di Desa Dalisodo Kecamatan wagir Kabupaten Malang berdasarkan hasil wawancara kepada Bapak Ladi, bahwa perkembangan  kemajuan pertanian di desa tersebut tidak pesat,karena alat-alat yang digunakan masi alat-alat tradisional.Sistem pemasarannya juga belum berkembang karena ruang lingkupnya masi sebatas pedesaan dan informasi pemasarannya berasal dari tetangga.Tetapi penyediaan benih,bibit,pupuk dan pestisida lumayan berkembang pak Ladi membeli bahan tersebut meskipun ada pupuk yang dibuat sendiri oleh pak Ladi.

 

 

  1. PENUTUP
    • Kesimpulan

Muhammad Jauhar Firdaus (155040207111135)

Menurut hasil wawancara yang dilakukan kepada Ibu Piayah diketahui bahwa keluarga Bapak Ladi sudah melakukan kegiatan pertanian secak kecil. Pola tanam yang diterapkan pada lahan yang mereka miliki yakno seluas 0.82 hektar tersebut adalah dengan pola tanam monokultur dengan komoditas cabai pada bulan November sampai april, sedangkan pada bulan mei sampai dengan juli lahan tersebut tidak ditanami, karena ketiadaan air dan pada bulan selanjutnya hingga bulan oktober ditanami dengan komoditas jagung. Benih didapat dari hasil panen yang diseleksi pada saat musim panen sebelumnya atau dengan membelinya di Koprasi Unit Desa setempat. Begitu pula dengan pupuk dan obat obatan kimia dibeli secara tunai pada Koprasi Unit Desa tersebut. Pemasaran produk hasil pertanian dilakukan dengan cara membawa produk tersebut menuju pasar Gadang secara langsung menggunakan kendaraan bermotor. Kegiatan transaksi langsung dilakukan pada pasar tersebut dan penentuan harga ditentukan langsung oleh pedagang. Jarak antara Desa Dalisodo menuju pasar Gadang yaitu sekitar 12 Km.

  • Saran

Joshua Bimayou Sitepu (155040200111240)

Pelaksanaan fieldtrip dan praktikum sudah terlaksana dengan baik, namun seharusnya asisten dapat mengkordinir saat perjalanan ke rumah warga yang akan diwawancara,supaya tidak akan ada praktikan yang tersesat,jadi kegiatan wawancaranya menjadi tidak tepat waktu.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ancok . 2002. Outbound Management Training: Aplikasi Ilmu Perilaku dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jogjakarta: UII Press.

Arulchelvan dan Viswanatan. 2006. Pattern Of Usage Of Various Electronic Media By Higher education Students. International Journal Of Education And Development Using Information And Communication Techonoly (IJEDIC).

  1. Mosher, Menggerakkan dan Membangun Pertanian, terjemahan Ir. Krisnandhi. CV. Yasa Guna ,Jakarta 1966

Bradberry & Greaves, 2009. Taklukan emosimu! The Way of Emotional Quotient for Your Better Life. Yogyakarta; Garailmu.

Dariah, A. 2004.Tingkat Erosi dan Kualitas Tanah pada Lahan Usahatani Berbasis Kopi di Sumberjaya, Lampung Barat. Desertasi. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Dirman. 1958. Perundang-undang Agraria di Seluruh Indonesia. Jakarta: J.B. Wolters.

Djarwaningsih, T. 1984. Jenis- jenis Cabai di Indonesia, dalam Penelitian Peningkatan Pendayagunaan Sumber Daya Alam, hlm 232-235.

Ellis, Frank and H. Ade Freeman. 2005. Conceptual Framework and verview of Themes. In Ellis, Frank and H. Ade Freeman: Rural Livelihoods and Poverty Reduction Policies. Routledge. New York.

Goleman. 1997. Kecerdasan Emosional (terjemahan oleh : Hermaya). Jakarta : PT. Gramedia Pustaka.

Green & Haines, 2002 dalam Asset Building and Community  Development Marimin dan Maghfiroh, N. 2010. Aplikasi Teknik Pengambilan Keputusan Dalam Manajemen Rantai Pasok. Bogor: IPB Press .

Malayu S, P. Hasibuan. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia (Edisi Revisi 9). Jakarta: PT Bumi Aksara.

Philip Kotler. 1998. “Analisis Perencanaan Implementasi rlan Pengendalian Manajemen Pemasaran”. Jakarta: Prehalindo.

Ross, dkk, 1997, Sistem Informasi untuk Manajemen Modern, Jakarta: Erlangga.

Sastraatmadja, Entang. 2010. Suara Petani. Bandung : Masyarakat Geografi Indoonesia

Sedarmayanti. 2009. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Bandung: CV Mandar Maju.

Sherraden, Michael. 2006. Aset Untuk Orang Miskin. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.

Suwarto dan Octavianty, Yuke. 2010. Budidaya Tanaman Perkebunan Unggulan. Jakarta: Penebar Swadaya

Suparlan, P. 1985. Kebudayaandan Pembangunan. Makalah Seminar Kependudukandan Pembangunan KLH. Jakarta.

Soekartawi. 1991. Agribisnis Teori dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Press.

Soemardjan, S. 1981. Perubahan Sosial Di Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Soerjono Soekanto. 2000. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Stockley .2003. Human capital A Self Assestment Checlist For A gency Leader. Office of the Controller General

Wahyuni, Sri.2003.Kinerja kelompok Tani Dalam SistemUsaha Tani Padi dan Metode Pemberdayaannya. Jurnal Litbang Pertanian, 22(1). Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian,Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.

Wiranata Abdi Sukmana. 2012. Pola Tanam. Penerbit Wedatama Widya Sastra. Jakarta.

Wolf, Eric. 1986. Europe And The People Without History. University of California Press. ISBN 0-520-04898-9

 

jhouhartz.wordpress.com

 

LAMPIRAN

 

Lampiran 1. Lampiran foto kegiatan

Iklan