Bani Abbasiyah

Posted: Januari 10, 2012 in Uncategorized

Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari Khilafah Umayyah. Para pendiri khilafah Abbasiyah adalah keturunan paman Nabi Muhammad saw yaitu Abdullah as- Saffah Ibnu Muhammad Ibnu Ali Ibnu Abdillah Ibnu Abbas. Kekuasaannya berlangsung dari tahun 132 H s.d 656 H atau 750 M s.d 1258 M.

Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter.

Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. Al-Ma’mun, pengganti al-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan serta Tokoh dan Ilmuwan muslim sampai dengan Bani Abbasiyah

Pusat pemerintahan tidak berada di tengah-tengah bangsa Arab, namun di Bagdad. Kebijakan ini membawa dampak positif bagi ilmu pengetahuan dan sains. Karena orang-orang non Arab memiliki keunggulan dalam berbagai ilmu pengetahuan, bahasa dan ketrampilan. Berdasarkan sejarah yang ada banyak ahli ilmu agama dan non agama berasal dari kaum non arab (Malawy), misalnya : tokoh nahwu Syibawaih, Al- Zujaji dan Al- Farisi mereka bertiga berasal dari Persia bukan Arab.

Faktor yang menjadikan ilmu pengetahuan dan sains mengalami kemajuan adalah : adanya kebijakan politik yang egalitarian untuk masyarakat arab dan non arab, stabilitas politik dan motivasi penguasa, dan pusat pemerintahan dan budaya yang melingkupinya. Pada masa Bani Abbasiyah juga mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan agama. Diantara ilmu pengetahuan umum yang berkembang adalah :
Filsafat

Pada masa ini proses penterjemahan ilmu pengetahuan dan peradaban ke dalam bahasa asing selain arab sangat maju. Tokoh yang memiliki peran besar dalam ilmu filsafat adalah :

1) Al- Kindi (185 – 260 H atau 801 – 873 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf YA’kub Bin Ishak Bin Sabban Bin ImranAl- Ash’at Bin Qays Al- Kindi. Karya yang dibukukan sebanyak 270 berupa pemikiran tentang filsafat, kedokteran, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, psikologi dan politik

2) Abu Nasr Al- Faraby (258 – 339 H atau 870 – 950 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Nasr Muhammad Al- Faraby lahir di Wasi wilayah Transoxania. Pandangannya yang masyhur adalah tentang filsafat emanasi (pancaran).

3) Ibnu Bajjah (wafat tahun 533 H atau 1138 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Bin Yahya Al- Sha’ig lahir di Saragosa Spanyol. Di negara Barat dan Eropa dikenal dengan nama Avempace.

4) Ibnu Tufail (wafat tahun 581 H atau 1186 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Bin Abdul Malik Bin Muhammad Bin Muhammad Bin Tufail. Selain filsafat ia menguasai ilmu kedokteran, matematika dan sastra arab. Karya yang monumental adalah Hay Bin Yaqdan (si hidup bin si bangkit)

5) Al- Gazali (1059 – 1111 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Bin Muhammad Al- Gazali lahir di Gazaleh dekat Khurasan pada tahun 1059 M. Beliau menuntut ilmu dari Imam Haramain al- Juwaini guru besar di Madrasah Nidamiyah Nisapur.

6) Ibnu Rusyd (520 – 595 H atau 1126 – 1196 M)

Nama lengkapnya adalah Abu al- Walid Muhammad Bin Ahmad Bin Muhammad Bin Rusyd lahir di Cordova pada tahun 520 H. Beliau menguasai ilmu sastra arab, matematika, fisika, astronomi, logika dan kedokteran. Hasil karyanya adalah kitab Bidayah al- Mujtahid membahas tentang ilmu hukum dan al- Kuliya membahas ilmu kedokteran. Karyanya adalah Fashl al- Maqail fi ma baina al- Hikmah wa al- Syar’iyyah min al- ittisal.

Ilmu Kalam

Islam sebagai agama dan peradaban mampu membawa perubahan dan akulturasi budaya. Kaum Mu’tazilah adalah kaum yang paling gigih membantah serangan kaum Yahudi, Nasrani, dan Wasani. Dengan demikian kaum Mu’tazilah memiliki andil yang besar dalam menciptakan ilmu kalam. Lahirnya ilmu kalam karena dua faktor yaitu : pertama untuk membela Islam dengan bersenjatakan ilmu filsafat. Kedua karena semua masalah termasuk masalah agama telah berubah dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Pelopor ilmu kalam yang terbesar adalah : Wasil Ibn Atha, Baqillani, Asyary, Ghazali, Sajastani dan lain-lain.

Kedokteran

Ilmu kedokteran mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada masa Bani Abbasiyah didirikan apotek pertama di dunia dan sekolah farmasi. Pendirian sekolah kedokteran dilengkapi dengan rumah sakit. Awal abad ke-9, khalifah Harun Ar- Rasyid mendirikan rumah sakit Islam dengan mencontoh rumah sakit yang ada di Persia. Tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain adalah

1) Ar- Razi.

Ar- Razi dianggap sebagai ilmuwan yang menemukan benal pontanel untuk dipergunakan dalam ilmu bedah. Karya Ar- Razi yang terkenal adalah Al- Hawi yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin pada tahun 1279.

2) Ibnu Sina.

Nama lengkapnya adalah Abu Ali Husein Bin Abdillah Bin Sina lahir di Afsyana dekat kota Bukhara. Karya yang ia miliki sangat monumental yaitu Al- Qanun fi al- Tibbi (ensiklopedi kedokteran) yang diterjemahkan orang dengan nama Canon. Karangan lain yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris Materia Medica yang memuat ± 760 obat-obatan yang digunakan sebagai pedoman utama untuk ilmu kedokteran Barat pad abad ke-12 sampai dengan abad ke-17 M.

Ilmu Kimia

Dalam bidang ilmua kimia, mereka memperkenalkan eksperimen obyektif. Hal ini merupakan perbaikan yang tegas dari spekulasi ragu-ragu bangsa Yunani. Tokoh kimia yang terkenal adalah Jabir Ibnu Hayyan.

Matematika

Ilmu matematika berkembang karena kebutuhan dasar pemerintah untuk menentukan waktu yang tepat dalam membangun. Awal mulanya ilmu matematika yang dikembangkan berasal dari berbagai saduran dan terjemahan karya-karya bangsa Yunani-Romawi dan India. Pada saat Hajjaj Ibnu Yusuf menjadi gubernur di Persia, ia banyak menemukan manuskrip (naskah) ilmuwan terkenal seperti Euclides (ahli matematika) yang hidup pada tahun 300 SM yang berjudul elements yang sudah diterjemahkan dan kemudian diserahkan kepada khalifah Harun Ar- Rasyid.

Sejarah

Pada masa ini sejarah difokuskan kepada tokoh atau peristiwa tertentu. Khususnya sejarah hidup Nabi Muhammad saw. Minat pada kajian ini sangat besar, sehingga para khalifah memberikan dorongan moral dan material. Karya terbesar yang lahir ditulis oleh sejarawan kenamaan, misalnya Muhammad Ibnu Ishaq. Beliu berhasil menyusun kitab Sirah al- Nabawiyah li Ibn Ishaq yang kemudian disunting oleh muridnya bernama Ibnu Hisyam menjadi Sirah An- Nabawiyah. Ilmuwan lain adalah Al- Waqidi, Muhammad Ibnu Sa’ad yang menulis karya berjudul At- Tabaqat al- Kubra dan Abu Ubidah.

Ilmu Bumi

Ahli ilmu bumi Islam yang pertama adalah Hisyam al- Kalbi dan Al- Khawarizmi. Diantara karyanya berjudul Surah al- Ard (Morfologi Bumi) sebuah koreksi atas karya Ptolemaeus yang merupakan landasan ilmiah bagi para ahli ilmu bumi.

Usaha al- Khawarizmi dilengkapi oleh Al- Muqaddasi Abu Abdillah yang mengadakan perjalanan panjang selama dua puluh tahun sehingga menghasilkan sebuah ensiklopedi ilmu. Pada abad ke-10 Al- Astakhri menerbitkan buku geografi negeri Islam dengan peta berwarna. Kemudian pada awal abad ke-11 Al- Biruni melengkapi karya Al- Astakhri menerbitkan buku geografi Rusia dan Eropa Utara. Al- Biruni memberikan sumbangan dalam bidang geologi dan geografi terutama tentang ledakan geologis dan metalurgi hingga lintang bujur

Astronomi

Tokoh resmi Daulah Abbasiyah yang ahli astronomi adalah Muhammad Al- Fazani. Beliau mengoreksi tabel yang ada berdasarkan teks astronomi India Shiddanta yang ditulis oleh Brahmanagupta. Beliau juga mengarang syair astronomis dan pembuat astrolob pertama.

Daulah Bani Abbasiyah juga mengalami kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan agama. Hal ini terjadi karena sebagian dari khalifah Bani Abbasiyah adalah orang-orang yang berpendidikan. Maka tidak heran apabila pada masa itu umat Islam mampu membaca dan menulis, sehingga mereka dapat memahami al- Qur’an, hadis dan ilmu agama lainnya. Bani Abbasiyah juga mendirikan lembaga pendidikan yang diberi nama Baitul Hikmah dan Madrasah Nidamiyah.

Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan agama Islam terdapat pada berbagai macam cabang ilmu diantaranya adalah :
Ilmu hadis

Pengumpulan hadis dimulai dari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, seorang khalifah dari Bani Umayyah. Beliau memerintahkan kepada Gubernur Madinah Abu Bakar Bin Muhammad Ibnu ’Amr Ibnu Hazm. Pada pertengahan abad ke-2, pembukuan hadis terlepas dari sistematika fiqih dalam bab aqwal al- shahabah dan fatawa al- Tabi’in. Pada masa ini sudah diadakan kritik hadis dan matan. Tokoh yang memulai adalah Al- Bukhari yang lahir di Bukhara pada tahun 194 H. Kitabnya yang terkenal adalah al- Jami’ al- Shahih. Kemudian Muslim yang tinggal di Naisabur. Kitabnya adalah Shahih Muslim. Selain Al- Bukhari dan Muslim ada lagi tokoh-tokoh hadis yaitu Ibnu Majah, Abu Daud, At- Turmudi dan An- Nasai
Ilmu tafsir

Pada abad ke-3 H mulai berkembang ilmu tafsir. Terdapat dua metode yang digunakan yaitu : pertama metode Tafsir Bi Al- Ma’sur artinya menafsirkan ayat-ayat Al- Qur’n berdasarkan hadis dan penjelasan para sahabat. Pada perkembangannya juga merujuk pada pendapat ahli kitab yang sudah masuk Islam serta orang-orang yang menguasai Taurat dan Injil. Metode ini diperselisihkan banyak golongan, sehingga muncullah metode kedua yaitu metode Tafsir bi Al- Ra’yi atau bi Al- ‘Aqli. Diantara tokoh Tafsir Bi Al- Ma’sur adalah At- Tabary, Al- Suda, Muqatil Ibn Sulaiman. Karangan yang terkenal adalah Jami’ Al- Bayan fi Tafsiril Qur’an karangan At- Tabary.
Ilmu fiqih

Perkembangan ilmu fiqih sangat pesat. Hal ini terbukti dengan banyaknya kitab-kitab fiqih yang ada. Misalnya Abu Hanifah menyusun Musnad Al- Imam Al- A’dam ata Fiqih Akbar. Imam Malik menyusun Al- Muwatta’, Imam Syafi’i menyusun Al- Umm dan Al- Fiqh al- Akbar fi al- Tauhid, Imam Hambal menyusun al- Musnad.
Ilmu tasawuf

Situasi politik dan perdebatan kalam menjadi salah satu faktor penyebab banyaknya Ulama’ yang mencari jalan menuju Tuhan dengan pendekatan Tasawuf. Mereka berusaha mendekatkan diri pada Tuhan melalui tahapan-tahapan yang disebut dengan maqam. Tokoh yang terkenal adalah Imam Ghazali dengan karangannya Ihya Ulumuddin. Selain itu banyak sekali tokoh-tokoh ahli tasawuf, diantaranya adalah : Sufyan Sauri, Jabir Bin Hisyam, Rabiah Al- Adawiyah, Dunun Al- Misri, Abu Yazid Al Bustami, dan Al- Hallaj.

Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kebangkitan ilmiyah pada zaman ini terbagi di dalam tiga lapangan, yaitu : kegiatan menyusun buku-buku ilmiah, mengatur ilmu-ilmu Islam dan penerjemahan dari bahasa asing. Bentuk peradaban Islam pada masa daulah Bani Abbasiyah adalah :
Kota Pusat Peradaban

Kota pusat peradaban adalah Baghdad dan Samarra. Bagdad merupakan ibu kota negara kerajaan Abbasiyah yang didirikan Kholifah Abu Ja’far Al-Mansur (754-775 M) pada tahun 762 M. Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan. Sedangkan kota Samarra terletak di sebelah timur sungai Tigris, yang berjarak + 60 km dari kota Baghdad.
Bidang Pemerintahan

Pada masa Abbasiyah I (750-847 M), kekuasaan kholifah sebagai kepala negara sangat terasa sekali dan benar seorang kholifah adalah penguasa tertinggi dan mengatur segala urusan negara. Dalam pembagian wilayah (propinsi), pemerintahan Bani Abbasiyah menamakannya dengan Imaraat, gubernurnya bergelar Amir/ Hakim. Imaraat saat itu ada tiga macam, yaitu ; Imaraat Al-Istikhfa, Al-Amaarah Al-Khassah dan Imaarat Al-Istilau. Kepada wilayah/imaraat ini diberi hak-hak otonomi terbatas, sedangkan desa/ al-Qura dengan kepala desanya as-Syaikh al-Qoryah diberi otonomi penuh.
Bangunan tempat pendidikan dan peribadatan

Bentuk bangunan yang dijadikan sebagai lembaga pendidikan adalah madrasah. Madrasah yang terkenal saat itu adalah Madrasah Nizamiyah, yang didirikan di Baghdad, Isfahan, Nisabur, Basrah, Tabaristan, Hara dan Musol oleh Nizam al-Mulk seorang perdana menteri pada tahun 456 – 486 H. Banyak juga bangunan masjid. Masjid saat itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah sholat, tetapi juga sebagai tempat pendidikan tingkat tinggi dan takhassus. Di antara masjid tersebut adalah Cordova, Ibnu Toulun dan Al-Azhar.

Bidang Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan pada masa Daulah Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu naqli dan ilmu ‘aqli. Ilmu naqli terdiri dari Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits Ilmu Fiqih, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawwuf dan Ilmu Bahasa. Adapaun ilmu ‘aqli seperti : Ilmu Kedokteran, Ilmu Perbintangan, Ilmu Kimia, Ilmu Pasti, Logika, Filsafat dan Geografi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s